Waiting For You



Cerpen Edisi Kesebelas
WAITING FOR YOU
Oleh: Arina Zaida Ilma

Aku duduk termenung menatap jendela kamar yang terbuka. Merebahkan badan di sisi pojok kamarku. Menunggu datangnya sms yang masuk berdering. Mengharapkan seseorang yang aku sayangi datang menghampiri. Seketika, muncul sekelebatan bayangan didepanku yang mengagetkanku. Itu mamaku.
“Fa, kok melamun? Hayooo, lagi mikirin siapa? Mikirin Ardha ya? Cieee...,” tanya mama menyelipkan canda, membuatku merah merona mati gaya.
“Hah? Enggak kok ma. Thefa enggak mikirin siapa-siapa, apalagi Ardha.. Ewww...Thefa cuma pengin sendiri aja,” jawabku menutupi fakta.
“Ooo.. udah sore mandi sok atuh?!,” perintah mama sambil meninggalkan kamarku.
“Iya ma,” sahutku patuh.
Sudah dua hari ini, Ardha tak lagi mengirimkan pesan padaku. Apakah dia lupa padaku? Maybe. Ardha adalah seorang cowok SMP yang sangat mempesona. Daya tariknya sangat kuat, mampu memikat puluhan cewek yang melihatnya. Sayangnya dia tidak satu sekolah denganku. Dia pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya yang kerja di sana.  Ayah dan ibunya adalah sahabat dekat papa dan mamaku. Dulu mereka teman satu kampus. Sejak kami masih kecil kami sudah saling kenal satu sama lain, karena mamaku sering menitipkanku di Rumah Ardha ketika mama akan dinas di luar kota. Kami pun bermain layaknya anak-anak kecil lainnya. Aku sangat merindukan masa kecilku bersama Ardha. Untungnya setiap hari libur, ia kembali ke Yogya untuk menengok rumah lamanya.
“Tokkk-tokkk-tokkk,” bunyi ketukan pintu menggaung keras di luar. Aku membukanya dan siapa yang aku lihat? Wow, ternyata Ardha. Betapa girangnya aku menyambut kedatangan Ardha. Apakah ini surprise untukku? Setelah ia mengujiku dengan cara tak mengirimkan pesan padaku, akhirnya dia memberikan jawabannya sekarang bahwa dia masih ingat denganku.
“Hai Thefa, lama tak jumpa denganmu,” katanya begitu anggun menawan menembus dinding-dinding hatiku. Mengeraskan bunyi detak jantungku . Ardha memelukku, meluapkan `kerinduannya padaku.
“Hai, ia. Kok kamu gak sms aku lagi sih? Kangen tau?! Ayo masuk!,” jawabku sembari berbincang-bincang dan mengajaknya masuk.
“Ia kemarin aku sibuk. Maklum cowok keren,” sahutnya berlagak bintang sinetron terkenal yang sibuk dengan berbagai orderan.
Aku pun mengajaknya duduk di ruang tamu serta memanggil papa dan mama. Ardha tidak datang sendiri ke rumahku, ia bersama kedua orangtuanya. Ya, sekalian silaturrahim. Mama menyuruhku main dengan Ardha. Papa dan mama berbincang-bincang karena begitu rindu dengan sahabatnya itu. Aku mengajak Ardha ke kamarku dan mempersilahkan duduk di tempat tidurku.
“Ayo duduk Dha.”
“Ia, makasih Fa,” jawabnya singkat.
“Udah lama ya kamu gak balik ke Yogya?,” tanyaku mengerutkan kening seraya melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada Ardha.
“Ia udah ada 2 bulan. Aku rindu kota kelahiranku.” Ardha menjawab pertanyaanku.
Waktu terus berjalan hingga menunjukkan pukul 21.00 WIB. Aku pun mengantuk setelah lama mengobrol dengan Ardha. Aku ketiduran di pundak Ardha. Ardha lalu membaringkanku ke tempat tidur kemudian meninggalkanku di kamar untuk beristirahat. Ardha kembali ke ruang tamu, menemui orangtuanya untuk segera kembali ke Jakarta malam ini juga. Mereka berpamitan dengan orangtuaku.

* * *
Fajar pagi mulai bersinar. Sinar rembulan tak lagi terang, kini matahari menampakkan dirinya memberikan kehangatan untuk dunia. Aku terbangun dari tidurku. Langsung mandi kemudian bersiap-siap berangkat sekolah. Jam 06.30 aku dan keluargaku sarapan pagi sebelum masing-masing dari kami melakukan aktivitas sendiri-sendiri. Aku menanyakan Ardha pada mamaku.
“Ma, Ardha udah pulang ya ma? Kok aku gak tau?,” rengekku semberat lesu di mukaku.
“Udah sayang, dari tadi malam. Kamu ketiduran,” jawab mama.
Sebenarnya aku berat rasanya melepaskan Ardha untuk kembali ke Jakarta. Entah apa yang sedang terjadi padaku. Apakah ada rasa antara aku dan Ardha? Apakah kami saling menaruh hati? Apakah kami saling jatuh cinta? Ah, yang benar saja.
Pulang sekolah, aku berjalan gontai terkena terik matahari yang begitu menyengat bak lebah yang sedang beratraksi. Ku letakkan tasku di atas tempat tidurku. Ku tengok ponselku, mengharapkan pesan dari someone yang masuk. Someone itu adalah Ardha. Sebenarnya aku menaruh hati padanya sudah sejak lama. Tapi baru sekarang semua itu terasa.
***
Seminggu berlalu, ku jalani kehidupanku ini yang bagaikan panggung sandiwara. Menatap mentari 2012 agar selalu bersinar di seluruh belahan dunia. Memberi makna kehidupan yang sesungguhnya.
“Udah seminggu kok Ardha gak sms juga ya?,” cemasku pada Ardha.
Aku sangat mengkhawatirkan Ardha. Kenapa sekarang tak ada lagi kontak batin antara kita Ardha. Tatap mata pun tak lagi ada dapatkan darimu, apalagi smsmu. Oh..No?! Sekarang aku benar-benar tak percaya, aku akui kini aku sungguh mencintai Ardha. Ardha kembalilah padaku, kembalilah seperti Ardha yang dulu yang aku kenal. Apakah dia merasakan apa yang aku rasa, Tuhan? Yeah, meskipun dia tak tahu isi hatiku, tetapi aku akan setia, akan selalu menunggumu kapan saja, dimana saja dia berada. I will always waiting for you.
***
Satu tahun berlalu, meninggalkan duka yang amat mendalam bagiku. Tak ada lagi Ardha yang selalu menyayangiku. Tak ada lagi Ardha yang bisa ku ajak bicara. Tak ada lagi kisah yang bisa kita lukiskan di kanvas kehidupan. Kini, Ardha benar-benar sudah melupakanku. Ardha hilang seketika. Apakah pertemuan pada malam itu pertanda bahwa dia akan pergi meninggalkanku? Entahlah. Aku pun bertanya pada mama.
“Ma, kok Ardha gak datang lagi ke rumah kita ya?,” tanyaku merengek pada mama.
“Ardha kan lagi di Australia. Dia pindah sekolah ke sana. Ayahnya dinas di Australia. Emank kenapa?,” sahut mama menjelaskan semuanya padaku.
“Apa?! Mama kok dari dulu gak pernah cerita?!,” sewotku menggerutu agak marah.
“Maaf sayang, mama lupa. Lagian kamu gak tanya dari dulu, hehe,” jawab mama menarik bibir manisnya memberikan senyuman sinis padaku.
“Yah mama.. kapan Ardha balik ke Yogya.” Aku kembali menerocoskan pertanyaan-pertanyaan yang masih membuatku penasaran.
“Besok lusa dia datang kok. Kemarin ibunya sms mama,” komentar mama.
“Bener ma,” kataku sambil berlari kegirangan ke arah kamar tercintaku.
***
Satu hari kemudian,
Benar yang dikatakan mama. Ardha dan keluarganya datang ke rumahku kembali menyapaku dengan senyuman manis yang selalu memberi kesan tertentu di benakku.
“Ardha,” sentakku melihat Ardha berdiri dihadapanku. Dia tampaknya sudah berubah 100 % .  Dia makin tampak rupawan.
“Ia sayangku Thefa,” sahutnya memanggilku sayang. Ternyata orangtua Ardha dan orangtuaku telah merencanakan ini semua. Mereka akan menjodohkanku dengan Ardha setelah keluarga Ardha kembali dari Australia. Kedatangan Ardha memecahkan kesunyian, dan kini menjadi haru biru yang membahana membawa kebahagiaan untukku dan Ardha.
“Thefa, sebenarnya aku jatuh cinta sama kamu sejak kita SMP. Tapi aku nunggu waktu yang tepat untuk menyatakannya.. Maaf ya lama menunggu. Kata mamamu “you will always waiting me” kan? Hehe....” panjang lebar ia menjelaskan kepadaku.
“Lhoo kok kamu tau kata-kata itu sih?.” Pipiku memerah malu.
“Ia donk?! Kan mamamu selalu sms aku. Mamamu gak sengaja baca Diary mu, dan ingat tulisanmu yang bunyinya “ I will always  waiting you, Ardha”.” Ardha menjawabnya terbuka.
“Ih, mama jail deh. Hehe... Ya udah, yang penting kita udah ketemu lagi.”
“Iaaa, sekarang kamu mau gak jadi pacarku?! Dan besok kalau kita udah lulus kuliah aku mau melamarmu... Kamu mau kan?.” Ardha melontarkan kata-kata yang membuatku terharu mendengarkannya. Apakah ini fakta? Terimakasih Tuhan.
“Mmm.... aku mau Ardha,” jawabku sambil berpelukan karena begitu senang.
Aku dan Ardha pun kini terlihat sangat dekat. Dimanapun ada Ardha disitu pasti ada aku. Namanya juga pasangan yang tak terpisahkan. Aku menjalani seluruh kegiatanku hampir dengannya selalu. Kini, kami akan menunggu sampai kami benar-benar menjadi pasangan sejati yaitu pasangan suami istri. Selepas lulus kuliah, kami akan menikah dan menjalani bahtera kehidupan yang begitu indah, melukiskan kembali kisah-kisah cinta diantara kita yang terpendam begitu lama. HAPPY ENDING.

Salam manis,

Thefany dan Ardha

Dissapear but Come Back

 *Cerpen*
“Dissapear but Come  Back”
      by : Arina Zaida Ilma

“Pretek...pretek...pretekk,” bunyi kembang api tahun baru telah dinyalakan. Semua orang khususnya warga DKI Jakarta ramai berkumpul di sepanjang alun-alun kota untuk merayakan tahun baru 2012 dengan gembira. Begitupun dengan Chika. Chika Arsilla Ananta lengkapnya. Ia juga turut ikut merayakan gebyar tahun baru bersama Rangga, TTM (Teman Tapi Mesra) nya itu.

“Kembang apinya very good ya kak?!,” kata Chika lagak berbahasa Inggris. Karena Rangga lebih tua daripada Chika, Chika memanggilnya kakak. Meskipun rentang umurnya hanya berjarak 1 tahun saja.
“Iya Chik...,” sahutnya tak seperti biasanya. Ia terlihat lusuh, sedih.

“Eh, kakak kenapa sich? Kok jutek banget ama aku?,” rengek Chika sedih.
“Kakak gpp... Chik, kakak mau nyampein sesuatu ke kamu. Tapi, kamu jangan sedih ya?... Gini, kakak disuruh papa mama kuliah di Amerika. Tapi kakak ragu. Kakak gak mau pisah ama kamu Chik,” jelas Rangga mengerutkan keningnya.
“Kakak.. kakak mau ninggalin aku, gitu?,” kata Chika sewot tak mau di tinggal Rangga.
“Kakak sebenernya juga gak mau Chik, tapi mau gimana lagi,” jawab Rangga. Rangga terdiam beberapa saat, lalu ia menemukan ide.
“Oh iya, kamu ikut ama kakak aja. Ntar kamu nerusin  SMA disana. Mau gak?,” tawar Rangga pada Chika. Nampaknya, ide Rangga kurang begitu bagus.
“Tapi tanggung kak. Aku udah kelas 3 SMA. Gini kak, kakak pergi aja ke Amerika. Nanti kalo udah selesai kuliahnya, kakak balik lagi ke Jakarta ya?,” ungkap Chika berlagak seperti hakim yang memutuskan perkara.
“Ide bagus Chik... 4 tahun lagi kakak janji akan pulang ke Jakarta, dan  orang yang akan kakak temui pertama kali adalah kamu Chik... untuk melamar dan menikahimu menjadi istriku,” kata Rangga setuju dengan ide cemerlang Chika.
“Melamar dan menikahiku??? Apa gak salah kak? Kita pacaran be belum, masa langsung nikah gitu aja?,” tanya Chika heran.
“Tanpa pacaran, aku udah mantep akan melamar dan menikahimu 4 tahun lagi,” sahut Rangga benar-benar serius.
“Kakak... aku sayang kakak... Sering-sering hubungi aku ya kak? ,” Chika terharu. Mereka berpelukan untuk terakhir kalinya sebelum Rangga berangkat ke Amerika besok pagi.
***
Dengan pesawat, Rangga pun berangkat ke Amerika. Tak lupa, ia berpamitan dengan Chika melalui ponselnya, karena saat itu ia terburu-buru maka ia tak sempat berpamitan langsung dengan Chika.
Berjam-jam bahkan berhari-hari, tibalah Rangga di Amerika. Di sana Rangga langsung mencari tepat kost untuknya tempat tinggalnya. Setelah ia menemukan tempat kost yang cocok, ia mendaftar kuliah di Universitas Amerika.

Saat pendaftaran, Rangga bertemu dengan gadis blasteran Amerika-Indo. Gadis itu amat cantik, putih, bersih, rambutnya yang hitam terurai panjang, dan ia cukup pandai. Kebetulan ia juga mendaftar di Universitas yang sama dengan Rangga. Selain ia seorang calon mahasiswa, jauh hari ia telah menjadi foto model terkenal di Amerika.

Rangga pun terpesona dengan kecantikan dan keanggunan  gadis itu. Griffiths Orine namanya. Ia biasanya di panggil Ine. Ine terpikat juga terpikat oleh kegagahan Rangga.
“Hy, What is your name?,” bisik Rangga berlagak seperti orang bule pada Ine.
“Hy, My name is Griffiths Orine. You can call me Ine, and you?,” sahut Ine sambil mengeluarkan senyum manisnya.

“I am Rangga. I am an Indonesian. Glad to meet you Ine?” jawab Rangga memerah pipinya.
“Yeah. Glad to meet you Rangga. Senang sekali bisa bertemu dengan orang Indonesia,” kata Ine dengan menggunakan sedikit bahasa Indonesia. Ternyatat gadis blasteran ini bisa bahasa Indonesia juga.
“Hah? Kamu bisa bicara Indonesia?,” kaget Rangga bukan kepalang.
Rangga dan Ine jauh hari semakin dekat saja. Apalagi tempat kost-kostan mereka berdekatan. Sampai akhirnya mereka saling jatuh cinta satu sama lain. Dan kini Rangga jarang bahkan tak pernah lagi menghubungi Chika. Ia terlalu sibuk dengan kuliah dan tak ketinggalan pula karena gadis cantik nan rupawan itu.
***
Malam itu Rangga mengajak Ine jalan-jalan dengan  gerobag Jepang Rangga. Tak bisa dipercaya saat mereka asyik menikmati jalan-jalannya itu, tiba-tiba rem mobil Rangga blong dan menabrak tiang listrik. Sungguh tragis nasib mereka.  Mobil yang mereka tumpangi itu meledak seketika. Untunglah, Rangga berhasill diselamatkan oleh warga setempat. Namun malang nasib si Ine. Ia tak bisa diselamatkan karena pintu mobil terkunci dan akhirnya mobil itu langsung dilalap si jago merah.
Ine kritis di UGD. Sampai akhirnya ia tak bisa ditolong. Ine wafat dalam usianya yang masih muda,  22 tahun. Rangga pun juga mengalami gagar otak akibat benturan keras di kepalanya itu.
***
Dua tahun setelah kejadian itu, Rangga mulai beradaptasi dengan lingkungan hidupnya. Kini tiba saatnya Rangga di wisuda sebagai sarjana SI. Ia pun kembali ke Jakarta.

Tiba di Jakarta, ia langsung pulang ke rumah. Papa mamanya menyambutnya dengan gembira. Tetapi lain dengan Chika. Saat itu ia sedang menunggu janji Rangga. Chika sangat sedih karena Rangga tak kunjung menemuinya. Chika belum tahu kalau Rangga mengalami amnesia karena peristiwa dua tahun silam. Chika pun mengalah, ia datang ke rumah Rangga.

“Tok-tok-tok.” Bunyi ketukan pintu. Rangga membuka pintu, ia pun melihat gadis cantik yang sedang berdiri di hadapannya itu. Chika refleks dan memeluk Rangga erat-erat.

“Maaf, kamu siapa?,” kata Rangga tak mengingat Chika.
“Aku Chika kak, TTM mu dulu. Katanya kakak mau ngelamar aku sepulang dari Amerika?,” ungkap Chika sedih karena Rangga sudah tidak mengenalinya lagiu.
“Kamu kayaknya salah orang dech.” Komentar Rangga singkat.
Chika terpukul dengan kejadian itu, ia berlari sekencang angin menuju ke atas jembatan layang. Tiba-tiba kepala Rangga sakit. Sepertinya ia mulai mengingat semuanya. Rangga penasaran. Mungkin ia pernah mengenal Chika. Ia pun mengejar Chika sampai atas jembatan.
Chika akan melompat apabila Rangga tak mengingatnya lagi. Rangga tak berkutik, ia tetap diam. Chika heran, mengapa Rangga belum juga melarangnya melompat. Akhirnya Chika merebahkan dirinya dan terjun dari ketinggian 100 meter dari jembatan layang  dan menceburkan dirinya pada sungai yang arusnya deras itu.
Beberapa menit kemudian, kepala Rangga sakit. Sepertinya itu efek dari amnesianya. Perlahan-lahan ia mulai mengingat memory otaknya.

“Chika!!!,” jerit Rangga mengingat Chika adalah seorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Orang-orang di jembatan ramai berkumpul seperti barisan semut-semut yang sedang mengantri makanan yang bergula. Mereka semua heran pada Rangga karena ia tak kunjung menyelamatkan Chika.
Rangga akhirnya terjun ke sungai, menyelamatkan Chika. Dibawanya Chika ke daratan dengan tergopoh-gopoh. Nampaknya Chika harus diberi nafas buatan karena terlalu lama di air. Rangga memberikan nafas buatan pada Chika. Chika pun sadar.
“CHIKA!!!,” kata Rangga pada Chika yang baru sadar.
“Kakak... kakak sudah mengingatku?,” komentar Chika sambil tersenyum.
“Ya sayang... kakak sudah ingat semua. Chika, sebenarnya kakak amnesia. Jadi gak ingat apa-apa. Maafkan kakak Chik?! Sekarang kakak akan menepati janji kakak. Kakak akan melamar dan menikahimu secepatnya. ,” penjelasan Rangga panjang lebar kepada Chika.

Akhirnya Chika & Rangga bersatu kembali, setelah beberapa cobaan harus mereka jalani. Rangga menikahi Chika. Kini, mereka telah menjadi suami istri yang sah. Mereka hidup bahagia sampai ajal menjemput mereka. HAPPY ENDING

# Cinta butuh pengorbanan. Apabila ia benar-benar mencintai kita, pasti ia akan tetap menjadi milik kita dan kembali pada kita. Walaupun ujian dan cobaan berturut-turut menghampiri kita. Bersabarlah! Niscaya dibalik cobaan itu, ada hikmah yang tersirat dan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik daripadanya . Sesungguhnya Allah tidak menguji hamba-Nya melebihi apa yang hambanya bisa.

Refresh My Brain

Huh..
       Seminggu untuk full belajar menghadapi UAS 2 , akhirnya selesai juga..  Sekarang udah bisa REFRESHING  dari kejenuhan belajar. Seminggu kemarin tuh, harus bener-bener dimanfaatin dengan baik. Karena kesempatan gak akan bisa datang dua kali.
         Tau gak sih, aku belajarnya siang, malam, pagi.. Kalo siang biasanya habis sekolah, kalo malam ya sengantuknya, nah kalo pagi itu jam 04.00 an..
       Mmm.. Apalagi gue lagi sakit ( batuk, pilek) , rasanya males banget. Penginnya tidur mulu bawaannya.. Hehe... Tapi untungnya sekarang udah berlalu, kini tinggal nunggu hasilnya. Moga aja bagus semua nilainya dan harus naik kelas donk.. Hehe :) Amin...

"DI MATAMU ADA PELANGI "

"DI MATAMU ADA PELANGI "
 By : Arina Zaida Ilma

              Tetesan air hujan menetes, merembes ke dinding kamarku. Menatap langit yang mendung diselimuti awan hitam tebal nan kusam, sama dengan perasaanku kini. Tak ada senyuman, canda, tawa, bahagia yang bisa dirasakan seperti alam yang membisu, dan menangis. Aku pun ikut menangis dengannya. Ku tunggu hingga hujan reda sampai aku tak sadarkan diri karena terlelap oleh dinginnya malam yang sunyi.
***

         Malam tlah lenyap dari pandangan, pagi pun ramah menyapa. Membangunkanku untuk segera berangkat ke sekolah. Aku berjalan menuju lorong kelas. Ku lalui koridor-koridor kelas untuk sampai di kelasku. Berjalan sendiri, kesepian layaknya seorang yang terasingkan. Aku terkenal pendiam dan tak mudah bergaul dengan sembarang teman. Aku lebih suka membaca buku-buku pelajaran di kelas sendiri daripada mengikuti teman-teman berfoya-foya di luar sana. Aku sangat sensitive dengan hal-hal yang membuatku marah.
Sampai di depan kelas, Felly menyapaku dengan suara merdunya. Felly adalah teman sebangkuku. Dari SD kami selalu bersama dan SMP pun demikian. Meskipun kami bukan saudara, tapi kami tak bisa dipisahkan.
“Syifa, selamat pagi,” sapanya padaku.
“Pagi Fel,” sahutku membalas senyum manisnya.
***
           Siang itu, pelajaran Matematika. Bu Lena adalah salah satu guru Matematika di sekolahku.
“Anak-anak, perkenalkan ini Graha siswa baru di SMP kita. Dia pindahan dari Denpasar. Kebetulan ayahnya tugas di Jakarta. Jadi ia dipindahkan ke sini, “ penjelasan Bu Lena bahwa ada murid baru dari Denpasar.
Graha. Lebih tepatnya Graha Sanjaya. Nama yang cukup indah. Anak baru itu lumayan cakep untuk selera para cewek di SMP ku. Dan ia dikenal cukup pandai. Wow, dia pesaingku nantinya.
          Bu Lena menyuruh Graha duduk denganku, dan menyuruh Felly untuk pindah.
“Apa yang dilakukan Bu Lena? Mengapa Graha disuruh duduk denganku?,” gumamku bingung dengan sikap Bu Lena yang aneh.
Aku pun duduk dengannya. Ia cukup ramah. Aku dan ia saling berkenalan satu sama lain.
“Hai, namaku Graha. Nama mu siapa?,” tanyanya padaku.
“Aku Syifa,” jawabku gugup.
“Senang berkenalan denganmu,” kata Graha tersenyum.
***
         Seminggu berlalu, tampaknya Graha bingung dengan sikapku yang senang menyendiri dan lebih suka membaca buku di perpustakaan. Graha heran dan penasaran denganku. Ia mencoba untuk menyelidikinya.
“Syifa, sendirian nih? Mau aku temenin?,” tawarnya dengan malu-malu.
“Ia. Boleh, silahkan?!,” sahutku lirih.
“Syifa kok kamu gak gabung sama temen-temenmu? Malah kamu asik mbaca di perpustakaan sendiri?,” tanya Graha untuk mengorek informasi tentangku.
“Aku lebih suka mbaca buku Ha. Emank kenapa? Gk boleh?,” tanyaku balik pada Graha.
“Bukan begitu maksudku.. Mmmm ___ .” Graha terdiam lalu menatap mataku.
         Lima detik ia terus menatapku. Aku pun tergiur oleh tatapan manisnya. Aku pun tatap matanya. Sepertinya ia melihat sesuatu di mataku. Apakah yang ia lihat?
“Gubrakkk.” Bunyi tumpukan buku berjatuhan ke lantai. Aku dan Graha pun terkejut.
“Astaghfirulloh,” ucapku seakan sadar dari lamunanku.
Kenapa ini terjadi? Kenapa kami saling berpandangan? Tidak sepantasnya kami melakukan itu. Itu benar-benar di luar kesadaranku.
“Graha, hello?!!! Apa yang kamu lihat di mataku? Kelihatannya kamu begitu serius menatapku tadi?!,” tanyaku saking penasaran diselimuti rasa malu. Mukaku memerah ketika ia menatapku.
“Itu Syif, di matamu ada 2 buah pelangi yang menyelimutinya. Sungguh indah ku pandang. Sesungguhnya itu adalah cermin dari sikapmu. Dan itu adalah keistimewaanmu dibanding yang lainnya. Kamu masih begitu polos, dan aku sangat menyukai gadis sepertimu. Janganlah kau anggap aku sebagai musuh pelajaranmu. Marilah kita bersahabat layaknya sahabat,” jelasnya kagum padaku dan perkataannya begitu menyentuh hatiku, mendamaikan kalbuku.
          Baru kali ini aku dengar ada seseorang yang mengatakan aku punya pelangi di mataku yang merupakan cermin sikapku yang begitu polos dan itu adalah keistimewaanku. Oh.. Tuhan. Terimakasih karena Kau masih menyayangiku. Kau berikan aku seorang teman yang bisa melihat Syifa yang sesungguhnya. Ternyata, aku baru menyadarinya bahwa Graha adalah titipan Tuhan untukku yang sepatutnya dijaga untuk menghiburku dikala aku sedang sedih.
          Kini, aku dan Graha menjadi sahabat sejati yang tak terpisahkan. Kami saling mengerti satu sama lain. Meskipun kadang, teman-teman sekelasku heran padaku. Biasanya jika ada anak baru dan ia pandai, pasti aku langsung tak menyukainya dan langsung belajar dengan giat. Tapi berbeda dengan yang satu ini. Entah apa yang membuatku dan Graha bisa sedekat ini. Padahal ia anak pindahan yang baru mengenalku beberapa minggu. Ia sudah bisa menguasai diriku. Kami pun saling berbagi pengetahuan. Sampai-sampai kami terikat oleh cinta abu-abu. Sungguh diluar dugaan. Wow...

"Senyuman itu telah Lenyap"

"Senyuman itu telah Lenyap"
By : ARINA ZAIDA ILMA
To : Firdha
Fir, maafkan aku sebelumnya. Aku mohon kamu jangan pernah ganggu hubungan ku dengan Icha. Makasih atas semua yang udah kamu lakukan untukku. 
Sms Rino begitu melukai hatiku. Aku tak mampu menahan butiran-butiran air yang mengalir halus, membasahi pipiku. Seraya semakin deras bak anak sungai. Dan aku tak bisa lagi menampungnya. Aku menangis bukan karena putus cinta, tapi aku menangis karena kehilangan sahabat dekatku atau aku terlalu cepat menganggapnya sahabat.
Sebelum itu semua terjadi, ia sangat dekat denganku. Ia mengisi kesedihanku dengan kebahagian. Aku dan dia telah lama menjadi seorang teman. Bahkan sudah seperti kakak dan adik. Dimana ada dia, pasti ada aku. Tapi entah apa yang merasuki dirinya, sehingga ia berlaku seperti itu padaku. Apa salahku? Apakah aku sehina itu dimatamu Rino? Apakah aku seperti sampah yang tak layak untuk disayangi? Kau anggap apa aku ini? Boneka badut yang bisa bergerak. Yang dibutuhkan hanya untuk mengiburmu seketika. Oh.... tidak!
Aku tak kuasa menahan luka ini. Aku tahu, ia bukan siapa-siapaku. Tapi, setidaknya jangan kau putuskan pertemanan yang telah kita rajut sekian lama ini. Susah payah kita satukan, malah segampang itu kau hancurkan. Kalau tahu ini kan terjadi, pasti aku tak akan menjadikanmu lebih berarti dalam hidupku.
***
Pulang sekolah, aku berjalan gontai. Terik matahari menyengat tubuh mungilku. Menguras tenagaku. Ini tak seberapa, dibanding dengan kesedihan yang ku alami. Sampai di rumah, kembali ku lihat ponselku berharap ada sms atau telpon dari seseorang. Namun, kini tak ada lagi yang menghiasi inbox ku, tak ada lagi deringan ponsel yang selalu menghiburku. Rino, sahabatku tlah beku bak bongkahan es batu yang tak bisa diluluhkan. Ia telah benar-benar melupakanku. Ia tak pernah menghubungiku lagi. Ia berubah karena cinta yang menyelimutinya. Icha sahabat perempuanku telah memikat hati Rino dan membuatnya terlena oleh Icha. Mungkin Icha tak mau melihat aku dan Rino menjalin persahabatan. Ia khawatir nantinya aku dan Rino akan saling jatuh cinta.

***
Keesokan harinya, di taman sekolah. Aku kaget, ketika ada seseorang yang menepuk pundakku. Itu Icha.
“Fir, kamu kenapa? Kok melamun sendiri? Hayooo.. lagi mikirin sapa?,” tanya Icha padaku.
“Eh, kamu Cha. Bikin aku kaget aja. Enggak kok, aku Cuma pengin menyendiri. Hehe,” jawabku agak suntuk.
“Oh. Fir, ini ada surat untukmu dari someone.,” kata Icha sambil menyerahkan sepucuk surat untukku.
“Makasih yah,” sahutku singkat.
Lalu ku buka surat itu. Ternyata dari Vanno, teman sekelasku yang so perfect itu. Dari dulu memang aku sudah menaruh hati padanya. Tapi, karena ia terlalu sibuk dengan pelajaran, aku tak bisa mendekatinya. Ia dikenal cowok yang pendiam, angkuh tapi sangat perfect bagi anak remaja khususnya dikalangan remaja SMA ku.
Dalam surat itu mengatakan, bahwa ia terpikat oleh parasku. Wow... mengejutkan... Apa ia benar-benar tertarik padaku? Apa hanya tipu daya para cowok yang menginginkan kesucianku? Aku tak ingin terjebak dalam cerita abu-abu seperti sebelum-sebelumnya. Ku pikirkan matang-matang.
Siang itu, aku meninggalkan Icha di taman sendirian. Aku bergegas ke kelas dan ingin cepat-cepat membalas surat itu. Jujur saja aku juga menyukai Vanno. Hehe.

Dear Vanno

Vanno, aku terima pernyataan cintamu. Dan aku terima kau jadi pacarku. Tapi dengan satu syarat. Kau harus setia padaku dan semoga kita dapat saling melengkapi satu sama lain.

Sehari berlalu, aku dan Vanno kini menjalin hubungan kasih. Tapi, aku masih memikirkan Rino, sahabatku. Entah mengapa, aku gelisah seraya ada rasa bersalah menyelimutiku. Sebab, aku dan Rino telah berjanji apabila ada sesorang yang telah melengkapi hidup kita hendaknya saling bercerita satu sama lain.
Pagi itu, di sekolah aku tekadkan keyakinanku untuk mengatakan yang sejujurnya pada Rino bahwa aku dan Vanno sudah jadian. Mungkin itu lebih baik, daripada aku harus menyembunyikan hubunganku dengan Vanno.
“Rino, aku sekarang menjadi pacar Vanno,” kataku pada Rino bersama Vanno didekatku.
“Apa? Kalian jadian?,” Rino terkejut mendengarkan kata-kataku.
“Iya,” anggukku menoleh tersenyum pada Vanno.
Rino tak berkutik di tempat. Ia hanya bisa dan kaget. Ia pun tak tersenyum sedikitpun kepadaku. Apa artinya itu? Apakah dia masih menyayangiku? Sudahlah, itu bukan urusanku. Ia tlah menyakitiku, dan aku juga telah melupakannya.
***
Seminggu berlalu, aku dan Vanno semakin harmonis dan bahagia. Tapi, Rino dan Icha sudah putus tiga hari yang lalu. Rino memintaku untuk memutuskan Vanno dan ia ingin menjadi pacarku.. Aku tertegun seraya tak percaya, ia yang menjauhiku tapi ia malah mendekatiku lagi. Dasar cowok?!
Aku pun tak menerimanya. Sesekali ia bersikap manis padaku, aku torehkan senyumku untuk Vanno, kekasih setiaku. Kini, hanya untuk Vanno lah senyumku.

“Mengalah Cinta Demi Sahabat”

                  ------------------------∞---------------------                 
Mengalah Cinta Demi Sahabat                      
-----------------------∞---------------------
 by : Arina Zaida Ilma

       Rania Daiza Mila. Itu namaku. Biasa di pangil Iza. Aku adalah seorang remaja yang baru berusia 16 tahun. Aku baru saja menjadi siswi SMA ternama di daerah Cilacap. Di sekolah itu aku mempunyai 3 teman baik, yaitu Safa, Siska, dan Ama. Hubungan kami amat baik, apalagi kami sekelas dan baru kenal.
      Saat itu aku duduk sebangku dengan Safa di kelas XA. Sedangkan Siska dan Ama duduk di depan kami. Kami sangat kompak, ke sana ke mari selalu bersama layaknya saudara saja. Suatu saat  ketika aku dan Safa sedang jalan-jalan mengelilingi koridor sekolah, tiba-tiba Safa melihat anak cowok yang menarik perhatiannya. Ternyata cowok itu Agha, kelas XB. Wow... aku kaget bukan kepalang. Tanpa disadari oleh Safa, ia menyukai pacarku. Hatiku tersentak, ingin memarahinya. Tapi, aku tak bisa melakukannya. Aku hanya bisa diam, dan tak bisa berkata apapun.
      “Za, kamu kenapa? Bukankah cowok itu sangat tampan? Andaikan aku bisa jadi pacarnya, sungguh senang diriku... Benar kan Za?,” tanya Safa padaku. Aku tak bisa menjawabnya. Aku hanya bisa tersenyum sengit padanya.
Pulang sekolah, aku dan Safa mampir ke toilet, karena Safa ingin kencing. Aku pun menunggunya di depan toilet. Tiba-tiba terlintas di depanku seorang yang tinggi, gagah, putih dan tampan. Ia Agha. Agha menyapaku layaknya seorang  kekasih.
     “Hai say, ngapain di sini? Nunggu aku yah? Hehe,” Agha berkata dengan PD nya.
    “Ih, apaan say? Ini lagi nunggu temen. Udah, kamu pergi gih? Entar temenku denger lagi?! Nanti kamu sms aku yah? J .” Kataku tersenyum manis padanya.
     “Iya-iya. See you baby,” kata Agha menebar pesona.
     “See you too say,”
    Aku dan Agha sudah berpacaran sedari kelas 2 SMP. Dan karenanya, aku berniat untuk melanjutkan SMA disini.
Tak lama, Safa keluar dari toilet dan bertanya padaku.
“Tadi kamu ngomong sama sapa? Kok kayaknya romantis banget?,”
“Enggak tau, tadi ada anak cowok ama cewek disini,” Jawabku menyembunyikan fakta.
***
     Sampai rumah, aku pun langsung merauk HP ku untuk segera smsan dengan Agha. Ku buka sms dari Agha, dan ku balas seperti biasanya. Aku menceritakan kepadanya bahwa sahabatku suka dengan Agha. Agha tak menanggapinya dan membiarkannya. Kata Agha, ia tetap mencintaiku.
     Semakin hari, Safa semakin terpikat oleh paras Agha yang begitu tampan dan menawan. Ia jatuh hati pada Agha. Aku pun semakin panas dan cemburu. Tapi aku tak rela mengatakan bahwa Agha adalah pacarku sejak SMP. Dengan ketegaran hati, ketika ia meminta nomor HP Agha, aku menyerahkannya. Itu ku lakukan demi sahabatku. Aku tak mau sahabatku terluka karenaku. Toh siapa saja boleh saling menyukai. Bukankah begitu?
Di luar dugaan, ternyata Safa dan Agha sering smsan. Apalagi ku buka inbox HP Agha, banyak pernyataan mengenai pacar, cinta dll. Parahnya, Agha mengaku masih jomblo. Aku langsung lari dan meneteskan airmata kepedihan yang mendalam.
      “Kau anggap apa aku ini?!!! Jadi, selama ini kau tak menganggapku pacar!!!,” kataku sebelum meninggalkannya.
Agha pun berusaha mengejarku untuk menenangkan dan menjelaskan padaku. Tapi Agha tak mampu mengejarku karena aku sudah terlanjur jauh meninggalkannya kembali ke rumah mengurung di kamar tercinta.
Ponselku terus berdering, itu mungkin dari Agha. Aku tak meresponnya, malah mematikan ponselku. Aku terlanjur sakit hati pada Agha. Seiring berjalannya waktu, aku menjauhi Agha meskipun ia selalu menghampiriku di sekolah.
        Seminggu berlalu, aku masih terbungkam membisu. Dan ku putuskan, untuk mengakhiri hubunganku dengan Agha. Tadinya Agha menyesal tlah berbuat seperti itu padaku, ia tak rela diputuskan olehku. Namun, ini harus ku lakukan. Agha pun semakin mengerti betapa tulusnya cintaku pada Agha. Lalu, ku ceritakan semua kepada Safa, sahabatku. Ia tak menyangka aku merelakan Agha hanya demi dirinya. Ia pun menangis malu padaku seolah ia merasa bersalah padaku. Tapi itu telah berlalu, lupakanlah.
Keyakinanku setelah putus dengan Agha adalah menyatukan cinta Safa pada Agha. Aku menjelaskan pada Agha, bahwa Safa mencintainya. Melalui sms ku yang terakhir, aku memohon pada Agha agar ia jangan pernah menyakiti Safa.

To : Agha

Agha, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Jika kamu masih sayang padaku, aku minta kamu menjadi kekasih Safa dan jangan pernah sedikitpun kamu menyakitinya. Thx. This is my last sms Agha. I always love u. 

~ " SENJA " ~

         Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.
          Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?
           Cahaya melesat-lesat, membias, dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin dan dari balik rambut itu mengertap cahaya anting-anting panjang yang tak terlalu gemerlapan dan tak terlalu menyilaukan sehingga bisa ditatap bagai menatap semacam keindahan yang segera hilang, seperti kebahagiaan.
          Langit senja bermain di kaca-kaca mobil dan kaca-kaca etalase toko. Lampu-lampu jalanan menyala. Angin mengeras. Senja bermain diatas kampung-kampung. Diatas genting-genting. Diatas daun-daun. Mengendap ke jalanan. Mengendap ke comberan. Genangan air comberan yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja yang sedang bermain.
        Ada sisa layang-layang dilangit, bertarung dalam kekelaman. Ada yang sia-sia mencoba bercermin di kaca spion sepeda motornya. Ada musik dangdut yang mengentak dari warung. Babu-babu menggendong bayi di balik pagar. Langit makin jingga, makin ungu. Cahaya keemasan berubah jadi keremangan. Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari–hari berlalu.
        Lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang membentuk untaian cahaya putih yang panjang dan cahaya merah yang juga panjang. Wajah anak-anak penjual Koran dan majalah di lampu merah pun menggelap. Mereka menawarkan Koran sore dan majalah ke tiap jendela mobil yang berhenti. Bintang-bintang mengintip dilangit yang bersih. Seorang wanita, entah dimana, menyapukan lipstik ke bibirnya.
Malam telah turun di Jakarta. Dimeja sebuah bar, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta.
langit muram, kau pun tahu
angin menyapu musim, gerimis melintas
pada senja selintas, aku tak tahu
masihkah ketemu malamku

kamu adalah mimpi itu, siapa tahu
dalam jejak senyap semalam
menatap hujan,
tiada bertanya sedu atau sedan

MENTION GUE DIBALES @AtalarikSyach


Wow... Gak nyangka banget dech...
Mungkin kesannya agak katro, ndeso, gak jelas dll  terserah deh. Tapi kali ini gue bener-bener gak nyangka mention gue dibales mantan aktor terfavorit 2011 @AtalarikSyach pada bulan Maret silam. Udah 5 kali gue mention dibales mulu ama Om Arik.. Wew! Aktor yang gue segani cukup ramah dan baik hati. Kagak kayak artis tenar lainnya. Jutaan mention kagak ada yg dibales ama mereka.. Klo Om Arik udah cakep, pinter acting, baik hati, tidak sombong lagi.. Perfect deh buat Om!!!! :)
Gambar di bawah ini REAL dari Om Arik (Atalariksyach) ! See this, please?! Thx






"MANUSIA SEPERTI SEBUAH BUKU"

"MANUSIA SEPERTI SEBUAH BUKU"
by : ARINA ZAIDA ILMA
Cover depan adalah tanggal lahir.
Cover belakang adalah tanggal kematian.
Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan.
Ada buku yg tebal,
ada buku yg tipis.
Ada buku yg menarik dibaca,
ada yg sama sekali tidak menarik.
Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di’edit’ lagi.
Tapi hebatnya,
seburuk apapun halaman selanjutnya yg putih bersih, baru dan tiada cacat.
Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin,
Allah selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.
Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yg benar dalam hidup kita setiap harinya. Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita kedepannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkanNYA.
Terima kasih ya Allah utk hari yg baru ini..
Syukuri hari ini….
dan isilah halaman buku kehidupanmu dgn hal2 yg baik semata.
Dan, jangan pernah lupa, untuk selalu bertanya kepada Allah, tentang apa yang harus ditulis tiap harinya.
Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan kita selesai, kita dapati diri ini sebagai pribadi yg berkenan kepadaNYA.
Dan buku kehidupan itu layak untukdijadikan teladan bagi anak2 kita dan siapapun setelah kita nanti.
Selamat menulis di buku kehidupanmu,
Menulislah dengan tinta cinta dan kasih sayang, serta pena kebijaksanaan.
Aku berdoa dan berharap :
''agar Allah selalu menyertai setiap langkahmu'' ……….karena………
Allah tidak pernah menjanjikan bahwa
Langit itu selalu biru,
Bunga selalu mekar,
dan Mentari selalu bersinar..
Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi Pelangi di setiap badai, Senyum di setiap air mata,
Berkah di setiap cobaan,
dan jawaban di setiap do’a...

*♥*,*♥*✿♥✿ •*¨`**♥~> ♫ ♥ ✿ ♥♫ <~ ♥**´*¨`*• ✿♥✿

"Ketika Takdir Menyapa Cinta"

 "Ketika Takdir Menyapa Cinta"
by : Arina Zaida Ilma
بــــــــســم الله الرحمن الرحــيــــــــ م

Aku...
Yang tak pernah berharap mencintaimu...tetapi ALLAH yang telah menundukan hatiku tuk memberikan cinta ini padamu

Aku...
Yang tak pernah memilihmu untukku...tetap ALLAH telah memilihkanmu untukku..

Aku...
Yang tak pernah bermimpi, untuk mendampingimu., tetapi ALLAH lah yang tlah menentukan hidupku tuk mendampingimu..

Aku...
Juga tak pernah berharap menanggung Rasa ini atas cintaku padamu, tetapi ALLAH tlah memberikan rasa ini dan harus ku tanggung atasmu..
Itulah..aku adanya

Aku yang tak pernah kuasa mampu mengatur hatiku sendiri kerana Sang PEMILIK qu yang tlah menentukannya.. .

Aku...
Yang hanya engkau lihat sebuah Raga...sedangkan Hatiku sepenuhnya adalah Milik-Nya..

'' Ya Rabb...Tenggelamkanlah aku di dalam kecinta'an-MU.. supaya tiada suatu apapun yang mampu memalingkan aku daripada-MU..

Ya ALLAH...Karunia kanlah kepada kami keAmpunan-MU,bukan Azab-MU...masuk ke dalam Syurga-MU tanpa Hisab,melihat Wajah-MU tanpa Hijab,jagalah kami dengan Karunia-MU, dari kejahatan orang2 yg Hasad,ketika duduk, berdiri,dan tertidur...peli haralah kami dari rasa dengki...
 amien yaa rabbal allamin ±±±±±±±±±±±±±±±±±±±
Free Heart Bow Arrow Cursors at www.totallyfreecursors.com


http://www.funny.org.in - Glitter Text